walang kekek

walang kekek merupakan lagu yang dahulunya tenar dan terkenal dibawakan oleh penyanyi lawas yang berasal dari jawa Waljinah. dahulu lagu ilir-ilir dibawakan ddengan alunan musik keroncong dan dinyanyikan dengan apik oleh penyanyi legendaris keroncong Waljinah, lagu walang kekek disebut juga sebagai belalang sembah, belalang sentadu atau cangcorang (sunda dan betawi). anda tentu tahu cangcorang bukan?? disebut juga walang kadung dan mentadak oleh orang melayu dan dalam bahasa inggris disebut juga praying mantis.

http://deltalirik.info/search/Penyanyi%20Walang%20Kekek

dalam video walang kekek ini tidak begitu memperhatikan type of shotnya, mungkin kalau si pengambil gambar memerhatikan type of shotnya video ini akan terlihat lebih menarik. karena melihat dari lagunya sudah sangat jarang dibawakan oleh penyanyi-penyanyi kita. berikut adalah macam-macam type of shot :

Extreme Long Shot (ELS)

Extreme Long Shot digunakan untuk mengambil gambar yang sangat jauh, panjang, luas, dan berdimensi lebar. Shot ini diambil dari area yang sangat luas sehingga dapat memberikan informasi tentang atmosfir dan lingkungan tempat kejadian.  Subjek terlihat sangat kecil pada frame sehingga benar-benar tidak dapat dikenali. Ukuran figure lebih kecil dari satu per enam dari ketinggian frame.  Meskipun demikan, gambar masih dapat menginformasikan bahwa subjek adalah manusia walaupun tidak dapat dibedakan antara pria dan wanita.

Shot ini  juga dikenal sebagai wide angle atau wide shot.  Karena mayoritas frame berisi pengenalan scene daripada seorang manusia, maka shot ini kadang dikenal sebagai geography shot.  Lewat shot ini dapat menghasilkan komposisi gambar indah dari sebuah panorama.

  1. Very Long Shot (VLS)

Very Long Shot terutama dibuat apabila penonton memerlukan visualisasi untuk menggambarkan adegan kolosal atau banyak objek.  Untuk subjek manusia, tinggi subjek sekitar satu per tiga dari ketinggian frame.  Subjek mulai dikenali pakaian dan jenis kelaminnya.  Aktivitas subjek mulai terlihat walaupun tidak terlihat jelas.Mayoritas frame masih berisi geografi dan lingkungan sekitar sehingga dalam produksi film, VLS ini biasanya berupa gambar-gambar cantik dan indah.

Very Long Shot bisa digunakan sebagai opening sequence yang dibutuhkan untuk pengenalan figur dan pergerakannya walaupun tidak secara detil.

Masalah utama pada ukuran shot ini adalah kesulitan dalam mengikuti pergerakan subjek, baik ke kiri atau ke kanan.  Ini terjadi karena ukuran kepala yang terlihat cukup kecil sehingga garis mata tidak terlihat.  Akibatnya arah pergerakan lebih mudah dideteksi lewat gerakan tubuh.

  1. Long Shot (LS)

Jika mengambil objek manusia, Long Shot adalah gambar seutuhnya, mulai dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Posisi subjek bisa bervariasi : tiga per empat profil, profil, atau mengarah pada kamera. Gerakan kepala dapat dilihat dengan jelas sehingga mata dapat teridentifikasi tetapi kalau figur hanya satu.  Jika dalam shot terdapat dua atau lebih figur, maka garis mata diantara mereka menjadi kabur.

Long Shot sering digunakan untuk memperlihatkan gerakan manusia, seperti subjek yang sedang berjalan, berlari, atau menggerakkan tangan. Long Shot jarang digunakan sebagai shot pembuka, kecuali kalau lingkungan yang digambatkan sudah dikenal dengan baik oleh penonton.  Long Shot dikenal sebagai Landscape Format yang mengantarkan mata penonton kepada keluasan suatu suasana dan objek.

  1. Medium Long Shot (MLS)

Apabila kita menarik garis imajiner dari posisi Long Shot lalu di-zoom in, maka gambar menjadi lebih padat.   Ini  artinya kita memasuki wilayah Medium Long Shot. Medium Long Shot adalah shot pertama yang  melakukan cutting pada tubuh subjek dalam frame . Pada shot ini subjek dimasukkan ke dalam frame dengan headroom dan  bagian bawah frame dipotong sampai sebatas lutut.  Untuk menentukan apakah di atas atau bawah lutut, tergantung pada jenis kelamin dan pakaian subjek dan juga pada kecepatan subjek dalam melakukan gerakan.  Apabila subjek tidak bergerak, shot yang direkam sampai di atas lutut, sedangkan ketika subjek bergerak, maka diambil gambar sampai di bawah lutut.

Dengan Medium Long Shot bisa dikenali dengan jelas jenis baju dan warna subjek.  Rambut dan kulitnya bisa terlihat meskipun tidak secara detil.  Begitu juga dengan perubahan wajah. Medium Long Shot ini bisa dibuat dengan banyak variasi komposisi. Bagi sutradara televisi, angle ini sering dipakai untuk memperkaya keindahan gambar.

  1. Medium Shot (MS)

Pada objek yang sama, dengan melakukan zoom in pada gambar berukuran Medium Long Shot, maka shot size berubah menjadi Medium Shot. Posisi subjek pada Medium Shot mengarah pada kamera. Medium Shot dikenal sebagai Potrait Format atau posisi pas foto karena memperlihatkan subjek orang dari tangan sampai ke atas kepala. Ukuran shot ini   bahkan dapat memperlihatkan pergerakan mata dengan jelas. Karena itu, perhatian lebih ditekankan pada figure daripada background.

Medium Shot biasanya digunakan sebagai komposisi gambar terbaik untuk syuting wawancara karena  penonton dapat melihat dengan jelas ekspresi dan emosi dari orang yang diwawancara.

  1. Medium Close Up (MCU)

Posisi subjek pada Medium Close Up mengarah ke kamera dengan mengutamakan ekspresi wajah.  Garis mata subjek terlihat jelas bahkan apabila terdapat kecacatan pada kulit, dapat terlihat.  Begitu juga jika subjek menggerakan wajah, maka akan terlihat jelas, seperti kalau subjek menggerak-gerakkan matanya.

Pada Medium Close Up masih terdapat sisa tempat untuk memperlihatkan akvtivitas lain atau sebagian aktivitas terlihat pada background.  Ada problem utama yang berhubungan dengan mata subjek, yaitu mata akan tampak flat dan tidak hidup jika tidak dibantu oleh pencahayaan tambahan atau reflector.  Medium Close Up sangat umum digunakan pada berbagai produksi untuk menceritakan kepada penonton tentang berbagai hal mengenai subjek.  Satu catatan khusus, objek gambar bisa diposisikan dari berbagai sudut kamera.

  1. Close Up (CU)

Close Up merekam gambar dari leher sampai ke ujung batas kepala. Close Up diartikan sebagai komposisi gambar yang terarah pada wajah karena perhatian penonton terpusat pada mata dan mulut subjek. Masalah akan muncul apabila mengambil shot tanpa memperlihatkan bagian dari pundak.  Efeknya, subjek terlihat terpisah dari tubuhnya.  Masalah lain yang mungkin timbul yaitu berkaitan headroom.  Jika headroom terlalu sempit maka gambar terlihat tidak estetis secara framing. Sedangkan apabila tidak ada headroom maka gambar pada frame terlihat sangat rapat.

Dalam penyutradaraan drama, Close Up sering digunakan untuk menggambarkan emosi atau reaksi seseorang dalam sebuah adegan, seperti pada sebuah scene percintaan, menceritakan suatu rahasia, atau scene yang memperlihatkan kemarahan.

Sedangkan dalam penyutradaraan non drama, Close Up digunakan untuk wawancara narasumber di lapangan.

  1. Big Close Up (BCU)

Batas frame untuk Big Close Up,  untuk bagian atas, yaitu kening subjek, sedangkan bagian bawah adalah dagu. Bulu alis  dan kelopak mata menjadi dominan karena ukurannya yang sangat besar dalam frame. Akibatnya memberi kesan kedalaman pandangan mata subjek, raut wajah kebencian, kehinaan emosi maupun keharuan yang mendalam.

Big Close Up bisa digunakan untuk cerita drama horor yang menggunakan efek cahaya memantul pada sudut mata objek yang menimbulkan kesan kejam dan menakutkan.

Untuk program non drama, Big Close Up merupakan tata bahasa yang berlaku untuk produksi talk show dan kuis, terutama untuk menggambarkan reaksi dari penonton atau peserta dari program tersebut.

Big Close Up juga dapat digunakan untuk objek berupa benda, seperti makanan, pin, atau karcis. Masalah utama terletak pada focusing, yaitu area depth of field yang sangat kecil.  Selain itu, karena ukuran hidung, mulut, dan mata yang sangat besar menyebabkan kesulitan pada saat melakukan pengeditan.

  1. Extreme Close Up (ECU)

Extreme Close Up konsentrasi pada satu atau kadang-kadang dua bagian dari tubuh subjek, seperti mata, atau mata dan hidung, atau pada hidung dan mulut, atau konsentrasi pada mulut saja.

Kekuatan Extreme Close Up terletak pada kedekatan dan ketajaman yang focus pada satu objek, sedangkan kelemahannya adalah sulit untuk menciptakan depth of field karena jarak objek dan jangkauan lensa yang sangat dekat.

Penggunaan yang salah dari shot ini bisa menyesatkan penonton.  Pengisolasian secara total pada satu bagian dari subjek menjadikan subjek terlihat seram, menakutkan, agresif, dan terlihat tidak menyenangkan.

ECU jarang digunakan untuk penyutradaraan drama tetapi justru sangat sering digunakan pada program instruksional yang membutuhkan detil gambar untuk penjelasan materi.

http://blog.smkn4-mlg.sch.id/smmart/2010/11/18/type-of-shot-lebih-panjang%E2%80%A6/

About these ads

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.